Membangun Citra Guru Madrasah

Ahmad Arief Ma’ruf

Pendahuluan

Belakangan ini kepercayaan masyarakat kepada lembaga pendidikan “Madrasah” semakin meningkat. Terbukti dengan meningkatnya animo masyarakat untuk sekolah (menyekolahkan anaknya) di madrasah. Konsekuensinya, madrasah semakin ditantang untuk meningkatkan kualitas agar kepercayaan masyarakat tidak goyah, tetapi sebaliknya, justru semakin menguat. [1]

Sementara itu kenyataan pahit dialami oleh madrasah di tanah air ini. Mutu pendidikan madrasah banyak dipertanyakan, terutama menyangkut rendahnya mutu lulusannya. Dari cermatan data-data di Puspendik, kelihatan sekali bahwa hasil ujian siswa madrasah rata-rata di bawah sekolah non madrasah.[2]

Apakah semua madrasah di Indonesia lulusannya bermutu rendah? Tentunya tidak! Ada madrasah, baik Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), maupun Madrasah Aliyah (MA) yang mutu lulusannya cukup memadai. Ada lulusan MI yang mutunya lebih bagus daripada lulusan SD pada umumnya; lulusan MTs yang dipuji masyarakat; bahkan ada lulusan MA yang kualitas lulusannya diakui oleh berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Meskipun demikian hal ini sifatnya kasuistis; artinya tidak dapat diberlakukan pada madrasah-madrasah pada umumnya.[3]

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan madrasah. Salah satu faktor yang mengakibatkan kurang memadainya mutu madrasah di Indonesia adalah soal dana. Selama ini untuk mengembangkan pendidikan di madrasah bukan diambil dari alokasi dana Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang jumlahnya relatif memadai dibanding dana Departemen Agama (Depag); akan tetapi diambil dari anggaran Depag itu sendiri yang jumlahnya relatif terbatas. Kurangnya fasilitas madrasah, kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan orangtua murid menjadi faktor negatif dalam sistem pendidikan madrasah. Padahal, secara nasional madrasah mengelola 15 persen dari keseluruhan lembaga pendidikan yang ada. Data tahun 2001 menunjukkan sebanyak 42,20 persen orangtua murid bekerja tidak tetap dengan penghasilan di bawah Rp 100.000 per bulan dan hanya 4,91 persen yang berpenghasilan di atas Rp 500.000 per bulan[4]

Meskipun demikian, dari semua faktor yang ada, yang paling dominan adalah faktor guru. Guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan, sebab inti dari kegiatan pendidikan adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru di dalamnya. Bahkan, berdasarkan hasil studi di negara-negara berkembang, guru memberikan sumbangan dalam prestasi belajar siswa (36%), selanjutnya manajemen (23%), waktu belajar (22%), dan sarana fisik (19%). Aspek yang berkaitan dengan guru adalah menyangkut citra/mutu guru dan kesejahteraan .[5]

Hasil kerja Education Management Information System (EMIS) Departemen Agama beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa hampir setengah, tepatnya 47%, guru madrasah masih termasuk di dalam kategori kurang berkualitas.[6]

Keadaan guru yang kurang berkualitas tersebut masih diperparah lagi dengan kualifikasi yang tidak sesuai (mismatch) dengan tingkatan madrasah maupun spesialisasi yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu. Di tingkat MI misalnya, sebanyak 63% gurunya ternyata lulusan SMA dan D1; padahal lulusan SMA sama sekali tidak disiapkan untuk mengajar di sekolah mana pun, termasuk madrasah. Sementara itu untuk mengajar di tingkat MI seharusnya sudah berkualifikasi D2 kependidikan, bukan D1. Pada sisi yang lain di MTs dan MA, didapatkan banyak guru yang terpaksa harus mengajar bidang studi yang bukan bidang keahliannya.

Ada lagi kenyataan yang lebih “mengelus dada”, yaitu kenyataan bahwa sebagian besar guru madrasah tidak lulus dalam ujian kompetensi guru. Konon, jumlah guru yang lulus ujian kompetensi teramat sangat kecil. Ironisnya, para guru madrasah menuntut siswa harus lulus ujian nasional. Rupanya, peribahasa “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak” relevan untuk kita, para guru madrasah.

Akhirnya, tak bisa ditawar lagi, guru madrasah harus meningkatkan mutunya. Oleh karena itu, guru madrasah harus mau dan berani berbenah. Mulai sekarang juga! Lantas, apa yang harus dipenuhi untuk menjadi guru madrasah yang berkualitas?

Pembahasan.

Semenjak masa awal berdirinya hingga di awal milenium III madrasah memiliki peran yang tidak kecil dal;am dunia pendidikan kita. Secara nasional jumlah kelembagaan madrasah cukup signifikan. Kita boleh sedikit bangga oleh kenyataan meningkatnya animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah. Kenyataan tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.[7]

Perkembangan Jumlah Siswa
Pada Madrasah Ibtidaiyah

 

Status Madrasah TP.2002/2003 TP.2003/2004
Jml.Siswa Peningkatan Jml.Siswa Peningkatan
Jumlah % Jumlah %
Negeri 302.811 12.642 4.36 309.889 7.078 2.34
Swasta 2.829.125 43.766 1.57 2.814.264 14.861 0.53

 

 

Perkembangan Jumlah Siswa Pada Madrasah Tsanawiyah
Tahun Pelajaran 1999/2000 sampai 2003/2004

 

Status Madrasah TP 99/00

 

TP.2000/2001 TP.2001/2002
Jml.Siswa Peningkatan Jml.Siswa Peningkatan
Jumlah % Jumlah %
Negeri 473.548 486.772 13.224 2,79 504.411 17.639 3,62
Swasta 1.314.258 1.366.738 52.480 3,99 1.457.100 90.362 6,61

 

Status Madrasah TP.2002/2003 TP.2003/2004
Jml.Siswa Peningkatan Jml.Siswa Peningkatan
Jumlah % Jumlah %
Negeri 508.521 4.110 0,81 516.788 8.267 1,63
Swasta 1.558.226 101.126 6,94 1.564.788 6.562 0,42

 

 

Perkembangan Jumlah Siswa
Pada Madrasah Aliyah
Tahun Pelajaran 1999/2000 sampai 2003/2004

Status Madrasah TP.99/00 TP.00/01 TP.01/02
Jml.Siswa Pening
katan
Jml.Siswa Pening
katan
Jumlah % Jumlah %
Negeri 273.046 282.084 9.038 3.31 290.169 8.085 2.87
Swasta 2.616.580 2.716.535 99.955 3.82 2.785359 68.824 2.53

 

Status Madrasah
TP.99/00
TP 2002/2003 TP 2003/2004
Jml.
Siswa
Pening
katan
Jml.
Siswa
Pening
katan
Jmlh % Jmlh %
Negeri 247.876 267.726 19.850 8,01 286.308 18.582 6,94
Swasta 271.182 338.427 67.245 24,80 374.796 36.369 10,75

Sumber data : Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam

Dari data di atas terlihat bahwa peningkatan jumlah siswa yang tidak sedikit, di saat program KB di Indonesia sudah menunjukkan hasilnya. Itu jelas menunjukkan bahwa madrasah makin berterima di masyarakat. Akan tetapi kita juga harus menyadari benar bahwa kita harus berjuang keras meningkatkan kualitas, Maka kita harus menempuh strategi untuk menjadi guru madrasah yang bermutu.

Peningkatan kualitas guru madrasah telah lama diupayakan oleh pemerintah, baik oleh Oleh Departemen Agama sendiri, maupun bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Upaya tersebut biasanya berupa penataran-penataran untuk guru. Akan tetapi, apapun upaya pemerintah menjadi tidak signifikan apabila dari dalam diri guru sendiri tidak ada kemauan keras untuk meningkatkan diri.

Untuk menjadi guru madrasah yang berkualitas, setidak-tidaknya seorang guru madrasah harus memenuhi beberapa hal berikut ini.

Guru Madrasah harus bangga sebagai guru madrasah

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa di masyarakat pada umumnya keberadaan madrasah masih dianggap “second class” alias kelas dua. Kebanyakan seorang anak sekolah di madrasah karena tidak diterima di SMP yang diinginkan. Orang tua calon siswa menganggap madrasah merupakan pilihan kedua setelah SMP . Dampaknya, guru madrasah juga dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Pandangan “hanya guru madrasah” oleh masyarakat jangan sampai membuat guru madrasah minder atau merasa “second class”.

Guru madrasah harus bangga sebagai guru madrasah. Hal ini merupakan konsep diri (self concept) yang harus tertanam dalam diri guru madrasah. Konsep diri ini merupakan motivasi internal yang dibutuhkan untuk berkembang menuju guru madrasah yang berkualitas. Apa jadinya bila guru madrasah tidak bangga dengan statusnya sebagai guru madrasah?

 Guru madrasah harus profesional

Makin kuatnya tuntutan akan profesionallisme guru bukan hanya berlangsung di negara kita saja, melainkan juga di negara-negara maju. Di Amerika misalnya, isu tentang profesionalisasi guru ramai dibicarakan mulai pertengahan tahun 1980-an. Hal ini masing tetap berlanjut hingga sekarang.[8]

Seorang guru dikatakan profesional apabila memenuhi ciri-ciri sebagai berikut[9]:

  • Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Dengan kata lain, komitmen tertinggi guru adalah pada kepentingan siswanya. Hal ini relevan dengan tugas utama guru, yaitu mendidik, mengajar dan melatih siswa agar siswa memiliki kompetensi yang ditargetkan dalam standard kompetensi.
  • Guru menguasai secara mendalam bahan/ mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada para siswa. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sudah menjadi rahasia umum, guru di Indonesia baik guru madrasah maupun non madrasah minat belajar dan membaca para guru sangat rendah. Dalam dunia guru terdapat istilah “menang semalam”, artinya apa yang akan diajarkan pada siswa pada pagi hari besok baru dipelajari malam hari. Kebanyakan guru hanya mengajarkan sesuatu yang sudah sejak dahulu dikuasainya, tanpa perubahan sama sekali. Ini namanya fosilisasi pengetahuan. Padahal pengetahuan senantiasa berkembang dari hari ke hari.
  • Guru bertanggung-jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. Seorang guru yang bertanggung jawab akan selalu melakukan evaluasi untuk melihat dan mengontrol keberhasilan belajar siswanya. Guru yang baik akan lebih berorientasi pada proses bukan pada hasil. Seorang guru madrasah juga dituntut untuk menggunakan alat evaluasi yang bervariasi, tidak hanya satu macam saja. Dengan menerapkan berbagai macam alat evaluasi maka penilaian akan otentik. Oleh karena itu seorang guru madrasah harus menguasai teknik-teknik evaluasi. Kemudian yang lebih penting lagi adalah berkemauan untuk menerapkan berbagai teknik evaluasi yang telah dikuasainya. Sebab, kebanyakan guru, bahkan pengajar di perguruan tinggi jarang sekali menerapkan prinsip-prinsip evaluasi yang benar.
  • Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Pengalaman adalah guru yang terbaik, kata pepatah. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa. Sebaiknya guru meminta masukan dari siswa mengenai praktik mengajarnya. Hal ini bisa dilakukan dengan jalan menyebarkan angket, bertanya langsung pada siswa, atau siswa diminta menyampaikan kritik dan sarang secara tertulis tanpa harus mencantumkan namanya. Dari kritik dan saran siswa inilah guru akan memperbaiki cara mengajarnya menuju pembelajaran yang lebih berkualitas.
  • Guru seyogyanya bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya MGMP, PGRI, dan sejenisnya. Dalam forum ini guru akan belajar bersama rekan-rekan sejawat mengenai kurikulum maupun berbagai inovasi teknologi pembelajaran. Kenyataan yang ada, kebanyakan guru tidak aktif dalam organisasi profesi ini tertapi justru aktif dalam kegiatan yang tidak berkaitan dengan profesinya.

Ciri-ciri di atas tampak amat sederhana dan pragmatis. Apabila seorang guru madrasah mampu memenuhi kualifikasi di atas maka dia bisa disebut guru yang profesional.

Guru madrasah melek teknologi

Seorang guru madrasah wajib mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Guru yang tidak mengikuti perkembangan teknologi ibarat orang berangkat naik haji dengan masih mengendarai unta, sementara jemaah lainya sudah memakai kendaraan bermesin.

Di era komputer ini sudah selayaknya apabila guru madrasah sudah mengenal komputer dan memanfaatkannya secara optimal untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan komputer banyak pekerjaan berat menjadi mudah. Mulai dari pembuatan soal, penyusunan rencana pembelajaran, bahkan analisis hasil evaluasi bisa dilakukan dengan lebih mudah dan lebih cepat.

Belakangan ini pemanfaatan teknologi informasi untuk dunia pendidikan sudah lumrah. Dunia madrasah akan sangat ketinggalan dengan lainnya bila tidak mengikuti. Berbagai inovasi dunia pendidikan tersaji gratis di internet, berbagai media pembelajaran tersedia murah dalam bentuk keping vcd, akan sangat sayang bila dimubazirkan begitu saja.

 Guru madrasah harus rajin membaca

Selama ini ada pandangan dikotomis bahwa kewajiban guru adalah mengajar dan kewajiban siswa adalah belajar. Dampaknya, guru hanya mengajar melulu tanpa meluangkan waktunya untuk belajar. Ironisnya, gurulah yang setiap hari mengingatkan siswa untuk belajar, tetapi dia sendiri malas belajar. Oleh karena itu guru madrasah harus introspeksi dan meninggalkan pemikiran usang di atas.

Karena hampir semua pengetahuan didokumentasikan dalam bentuk tulisan, maka cara belajar yang paling dominan adalah dengan membaca. Maka guru madrasah dituntut untuk rajin membaca bila ingin meningkatkan kualitas mengajarnya.

Setiap hari kita mendengar keluhan para pakar mengenai rendahnya minat baca siswa-siswa di negara kita. Jangankan siswanya, gurunya saja memiliki minat baca yang rendah. Bila kita amati, para guru lebih suka memanfaatkan waktu luang di sela-sela mengajar untuk “ngerumpi” daripada untuk membaca buku atau berkunjung ke perpustakaan. Rupanya, pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” cukup relevan untuk kasus ini.

Untuk menjadi guru yang bermutu, guru wajib membaca dengan rajin dan berkelanjutan. Selain itu ketekunan guru dalam membaca akan menjadi “uswatun hasanah” bagi siswa-siswinya. Penulis yakin, bila membaca sudah menjadi budaya di lingkungan madrasah, mutu pendidikan akan meningkat secara otomatis.

  1. Guru madrasah harus Ikhlas Beramal

“Mengajar adalah Ibadah” merupakan prinsip yang harus dipegang teguh oleh guru . Prinsip tersebut merupakan inti dari konsep ikhlas beramal bagi para guru madrasah. Bila prinsip ikhlas sudah tertanam, maka dalam diri guru madrasah akan tumbuh ruhul jihad. Menurut Abdul Latif[10] rendahnya mutu pendidikan madrasah terutama disebabkan karena guru dan kepala sekolahnya kurang memiliki ruhul jihad (kerja keras secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridho Allah SWT).

  1. Penutup

Dari pembahasan tadi penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan madrasah. Salah satu faktor yang paling dominan adalah faktor guru. Peningkatan mutu pendidikan madrasah harus diawali dengan peningkatan mutu guru madrasah. Selanjutnya, agar seorang guru madrasah bermutu, hendaknya:

  • Guru madrasah harus bangga sebagai guru madrasah
  • Guru madrasah harus profesional
  • Guru madrasah melek teknologi
  • Guru madrasah harus rajin membaca
  • Guru madrasah harus Ikhlas Beramal

Bila ke lima hal di atas dapat terpenuhi maka Insya’allah mutu pendidikan madrasah akan meningkat dengan mudah.

Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat. penulis menyadari “tak ada gedung yang tak retak”, oleh karenanya penulis sangat mengharapkan tegur sapa yang membangun.

Sekian.

 

*****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ditjen Kelembagaan Agama Islam.2005. Kerangka Acuan Pemilihan Guru Teladan Tingkat Nasional tahun 2005. Jakarta : Depag

 

Harian Kompas, 13 September 2001

 

Supriadi, Dedi. 2000. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karyanusa

 

Supriyoko. 2004. “Masa Depan Madrasah di Indonesia” dalam Kompas 12 Agustus 2004

Suyanto.2001. “Guru Profesional, Tuntutan Reformasi Pendidikan yang tak Terelakkan.” Dalam Buletin Pusat Perbukuan, Vol.5 tahun 2001

 

Usman. Muh. User. 1996. Menjadi Guru profesional. Bandung: Rosdakarya

[1] Lihat data statistik mengenai perkembangan siswa madrasah,

[2] lihat Puspendik.com

[3] Supriyoko. 2004

[4] Harian Kompas 13 September 2001

[5] Mustafa, Falah Y. http://www.geocities.com/guruvalah/artikel_pendidikan6.html

 

[6]Harian Kompas, Kamis, 13 September 2001

[7] Sumber data : Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam

http://www.depag.go.id/Hal_51.php

 

[8] Supriadi, Dedi. 2000 (hal.98)

[9] Educational Leadership edisi Maret 1993 via Supriadi

[10] Harian Kompas Kamis, 13 September 2001

Tagged with:     , , , , ,

About the author /


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *