Otentisitas Alqur’an

Ahmad Arief ma’ruf

Setiap muslim sedikit pun tak pernah meragukan kemurnian al-Qur’an. Haqqul Yakin kita percaya bahwa Allah menjamin terpeliharanya al-Qur’an.
“Sesungguhnya kami menurunkan al-Qur’an, dan Kami yang memeliharanya” (QS. Al-Hijr 15:9)
Dengan jaminan ayat di atas setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai al-Qur’an adalah sama persis dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW dan didengar oleh para sahabat Nabi.
Tetapi sejarah membuktikan bahwa tidak sedikit kalangan orientalis, bahkan kalangan umat Islam sendiri yang meragukan otentisitas dan kelengkapan al-Qur’an. Di sinilah perlunya kajian terhadap al-Qur’an. Kajian ini sama sekali tidak bermaksud untuk bersikap skeptis terhadap al-Qur’an, tetapi untuk menemukan bukti-bukti ilmiah bahwa al-Qur’an yang sampai ke tangan kita sekarang ini benar-benar otentik dan lengkap seperti yang diturunkan kepada Nabi.
Oleh karena itu kajian mengenai al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai “pengumpulan al-Qur’an” yang pembahasannya mencakup lima hal, yaitu:
(1). Pengertian pengumpulan al-Qur’an
(2). Pengumpulan al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW
(3). Pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq RA
(4). Pengumpulan al-Qur’an pada masa’Utsman bin ‘Affan RA
(5). Beberapa tuduhan dan jawaban sekitar pengumpulan al-Qur’an

A. Pengertian Pengumpulan al-Qur’an
Beberapa ahli sepakat bahwa istilah pengumpulan al-Qur’an itu memiliki dua macam arti. Pertama, pengumpulan berarti menghafal al-Qur,an di dalam hati. Kedua, mengumpulkan al-Qur’an dalam bentuk tulisan. Keduanya tidak bertentangan tetapi saling mendukung dan saling menguatkan.
Pengumpulan al-Qur’an yang berarti menghafal ayat-ayat al-Qur’an sangat menonjol pada masa Nabi. Sedangkan, pengumpulan dalam bentuk tulisan masih sangat sederhana, parsial dan dengan media yang beraneka macam, seperti: kulit binatang, pelepah kurma, lempengan batu, kulit kayu , sobekan kain dan lain-lain.
Pada periode selanjutnya, pengumpulan al-Qur’an lebih menonjol pada usaha pembukuan al-Qur’an menjadi sebuah mushhaf. Kemudian muncullah beberapa versi mushhaf, seperti Mushhaf ‘Ali, Mushhaf Ubay, Mushhaf Ibnu Mas’ud, Mushaf Ibnu ‘Abbas, dan tentu saja Mushhaf Zaid bin Tsabit. Karena banyaknya versi mushhaf yang muncul dengan membawa beberapa perbedaan yang dapat mengancam ukhuwah islamiyah pada waktu itu maka diperlukan usaha pembakuan (standardisasi) mushhaf sebagaimana yang dilakukan ‘Utsman bin ‘Affan.
Dengan demikian, secara terminologis istilah “pengumpulan al-Qur’an” dapat memiliki pengertian :
• Usaha menghafal al-Qur’an baik secara parsial maupun total.
• Penulisan al-Qur’an secara lepas dalam bentuk shuhuf (belum berupa mushhaf) dengan media yang bermacam-macam.
• Usaha pembukuan al-Qur’an secara utuh dan sistematis.
• Usaha penggandaan mushhaf al-Qur’an.
• Dan, usaha penyeragaman/pembakuan (standardisasi) mushhaf al-Qur’an.
Sehingga, secara singkat pengumpulan al-Qur’an adalah usaha memorisasi, transkripsi, kodifikasi, reproduksi, dan standardisasi dari kitab suci al-Qur’an.

B. Pengumpulan al-Qur’an pada Masa Rasulullah SAW
Al-Qur’an tidak diturunkan dengan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur dalam masa yang relatif panjang yaitu selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari. Tepatnya , semenjak Muhammad SAW diangkat menjadi rasul hinggga menjelang akhir hayatnya. Oleh karena itu kodifikasi al-Qur’an belum sempat dilakukan pada masa Nabi. Tidak mungkin untuk membukukan al-Qur’an, sementara al-Qur’annya sendiri secara keseluruhan belum selesai diturunkan ( Faridl & Syihabuddin,1989:136).
Sehingga , pengumpulan al-Qur’an pada masa Nabi dilakukan dengan dua cara, yaitu :
• Secara hafalan yang dilakukan Rasul sendiri bersama para sahabat.
• Secara penulisan, yang dilakukan oleh para sahabat atas perintah Nabi Muhammad SAW.
1. Pengumpulan al-Qur’an dalam Bentuk Hafalan
Al-Qur’an turun kepada nabi yang ummi (tidak bisa baca-tulis) . Karena itu perhatian nabi hanya difokuskan untuk menghafal dan menghayatinya, agar ia dapat menguasai al-Qur’an persis seperti yang diturunkan lewat malaikat Jibril. Sangat kuat motivasi beliau, hingga pernah ketika wahyu belum selesai disampaikan Jibril kepadanya, beliau buru-buru menggerakkan bibirnya untuk menghafalnya. Karena itu turunlah wahyu
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membaca. Apabila kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian , sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya”. (QS al-Qiyamah,75:16-19)
Kemudian, seperti yang diceritakan ‘Aisyah RA, Jibril selalu mengunjungi Rasul pada setiap tahun untuk menyaksikan Rasul dalam bertadarus dan menghafal al-Qur’an.
Rasululah juga membacakannya untuk para sahabat ,yang mayoritas juga tidak bisa baca-tuilis, dengan begitu terang agar mereka dapat menghafal dan memantapkannya (Shabuny, 1986: 81; Zarqani :240 ; Depag,1985:21)
Biasanya orang-orang yang tidak bisa baca-tulis hanya mengandalkan hafalan dan ingatannya. Bangsa Arab pada masa turunnya al-Qur’an berada dalam budaya Arab yang begitu tinggi, ingatan mereka sangat kuat dan cepat dalam menghafalkan. Orang-orang Arab banyak yang hafal beratus-ratus ribu syair dan hafal silsilah serta nasab keturunannya. Begitu al-Qur’an datang kepada mereka merasa kagum sehingga mereka mencurahkan perhatiannya . Mereka menghafalkan ayat-demi ayat, atau surat deni Surat. Mereka tinggalkan syair-syair karena merasa memperoleh jiwa dari al-Qur’an (Shabuny,1986:82 ;Shihab,1994:23 ; Faridl & Syihabuddin, 1989:138)
Para sahabat seperti berlomba dalam membaca dan mempelajari al-Qur’an. Segala kemampuannya mereka curahkan untuk menguasai dan menghafal al-Qur’an. Mereka mengajarkan kepada keluarganya di rumah. Kepada Umat Islam yang domisilinya jauh dari kediaman Rasul dikirim utusan untuk mengabarkan dan mengajarkan ayat-ayat al-Qur’an . Waktu itu Mush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum dikirim untuk penduduk Madinah pra-Hijrah, kemudian Mu’az bin Jabbal dikirim untuk penduduk Makkah pasca-Hijrah (Faridl & Syihabuddin,1989:139).
Hampir seluruh sahabat Nabi hafal al-Qur’an baik secara total maupun parsial. Dari keseluruhannya itu, ada sekitar 27 orang yang benar-benar menguasai al-Qur’an. Kemuadian dari 27 orang itu ada 7 orang yang aktif mengajarkan al-Qur’an pada para sahabat, yaitu ‘Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, Abu Darda’, serta Musa al-Asy’ary.
2. Pengumpulan al-Qur’an dalam bentuk tulisan
Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sebagai pencatat wahyu. Setiap turun ayat al-Qur’an, beliau meminta kepada paa sahabat terpilih untuk menulisnya. Wahyu-wahyu itu ditulis pada pelepah-pelepah kurma, kulit binatang, kulit kayu , lempengan batu putih, tulang binatang sobekan kain, dan lain-lain. Waktu itu kaum muslimin belum mengenal kertas.Para penulis tersebut adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin serta sahabat-sahabat lainnya (Shabuny,1986:85 ;Shalih,2001:78).
Sebelum mereka menulis rangkaian wahyu yang diturunkan, Rasul terlebih dulu memberikan penjelasan, terutama menyangkut posisi ayat yang baru turun dalam susunan ayat-ayat lain yang telah turun sebelumnya. Oleh karena itu, maka sistematika ayat al-Qur’an adalah langsung diatur oleh Nabi sendiri di bawah bimbingan Malaikat Jibril atas perintah Allah SWT. Jadi, susunan al-Qur’an bersifat tauqifi, yaitu berdasar petunjuk dari Allah SWT (Faridl & Syihabuddin,1989:142)

C. Pengumpulan al-Qur’an pada Masa Abu Bakar ash-Shiddiq RA
Sepeninggal Rasulullah SAW, tampuk pimpinan dipegang oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada masa pemerintahannya beliau menghadapi berbagai permasalahan berat. Di antaranya adalah peperangan melawan orang-orang yang murtad, yang menjadi pengikut Musailamah si nabi palsu. Dalam peperangan ini banyak sekali kaum muslimin yang gugur yaitu sekitar 1200 orang, dan 70 di antaranya adalah huffadzul-Qur’an (Haekal,2001:316 ;Shabuny,1986:87 ;Shalih,2001:85; Qaththan,2001:188 ; Syahbah:243).
Tragedi yang oleh Haekal disebut “penyembelihan Yamamah” ini membuat kaum muslimin sangat prihatin dan khawatir, termasuk ‘Umar RA yang telah kehilangan adik dan para sahabatnya, yang notabene adalah huffadzul-Qur’an. Maka ‘Umar segera menemui Abu Bakar yang sedang sakit untuk membahas masalah ini. Dengan meninggalnya para hafidz, ekspedisi Yamamah menjadi peristiwa paling berbahaya bagi umat Islam. Padahal masih akan ada ekspedisi-ekspedisi lagi, tidak mustahil masih akan ada lagi huffadzul-Qur’an yang akan menjadi syuhada seperti dalam tragedi Yamamah. Oleh karena itu ‘Umar mengusulkan kepada Abu Bakar agar segera menghimpun al-Qur’an(ibid.)
Mula-mula Abu Bakar khawatir bahwa mengumpulkan (kodifikasi) al-Qur’an termasuk bid’ah, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Tetapi syukurlah, kemudian ia bisa menerima argumentasi ‘Umar bahwa mengumpulkan wahyu Allah adalah suatu kebajikan.
Abu Bakar segera memerintahkan Zaid bin Tsabit yang dinilainya akan mampu menunaikan tugas yang teramat sangat berat itu. Semula Zaid bin Tsabit ragu-ragu menerima tugas itu, bahkan secara hiperbolis ia mengatakan bahwa pekerjaan itu lebih berat daripada memindahkan gunung.
Kemudian Zaid memulai pekerjaannya dengan mengumpulkan manuskrip-manuskrip al-Qur’an yang tersebar dengan berbagai bentuk. Ada yang tertulis pada pelepah kurma, kulit binatang, lempengan batu putih dan sebagainya. Kemudian tulisan-tulisan itu dicocokkan dengan hafalan para sahabat dengan ketelitian yang tingga. Meskipun ada dalam tulisan tetapi kalau tidak ada dalam hafalan para sahabat, maka tulisan itu dianggap gugur. Demikian pula sebaliknya.
Setelah memakan waktu kurang lebih satu tahun, Zaid berhasil menyelesaikan tugasnya. Mushhaf hasil kerja keras Zaid ini kemudian disimpan Abu Bakar hingga akhir hayatnya. Setelah itu kemudian disimpan oleh ‘Umar hingga akhir hayatnya pula. Selanjutya , mushhaf tersebut disimpan oleh Hafshah binti ‘Umar. Hafshah adalah istri Rasulullah SAW yang memiliki kemampuan baca tulis di samping beliau seorang hafidzah (Shalih, 2001:88).
Perlu diketahui bahwa mushhaf yang disusun pada masa Abu Bakar tersebut belum sistematis karena sekedar memindahkan semua hafalan dan tulisan al-Qur’an yang bertebaran. Mushhaf ini juga masih mencakup tujuh huruf sebagaimana al-Qur’an diturunkan, serta terbatas pada bacaan yang tidak dimansukh (Qaththan,2001:198).

D. Pengumpulan al-Quran pada Masa “Utsman bin ‘Affan RA
Latar belakang pengumpulan al-Qur’an pada masa ‘Utsman RA karena beberapa faktor lain yang berbeda dengan faktor yang ada pada masa Abubakar RA. Wilayah otoritas Islam pada masa ‘Utsman telah meluas, orang-orang islam telah terpencar ke berbagai daerah dan kota.. Di setiap daerah telah populer bacaan sahabat yang mengajar mereka dengan dialek (qira’at) yang berbeda-beda. Penduduk Syammembaca al-Qur’an mengikuti bacaan Ubay ibn Ka’ab, penduduk Kufah mengikuti bacaan Abdullah ibn Mas’ud, dan sebagian yang lain mengikuti bacaan Abu Musa al-Asy’ari. Di antara mereka tentusaja terdapat perbedaan bunyi huruf, dan bentuk bacaan. Masalah ini membawa mereka ke pintu pertikaian dan perpecahan sesamanya. Hampir satu-sama lain saling kufur-mengkurfurkan karena berbeda dalam bacaan (Shabuny,1996:94 ; Zarqani:255 ;Syahbah:246 ;Shiddieqy,1992:98).
Kondisi di atas disadari oleh Hudzaifah bin al-Yaman. Ia buru-buru mendesak Amirul Mukminin untuk menyelamatkan umat dari perpecahan, karena ia khawatir umat Islam akan terpecah belah sebagaimana oarang-orang Yahudi dan Nasrani. ‘Kemudian ‘Utsman RA berusaha melakukan tindakan preventif. Ia mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah mencari solusi untuk menanggulangi fitnah dan perselisihan. Mereka berpendapat agar Amirul Mukminin menyalin dan memperbanyak mushhaf kemudian mengirimkannya ke segenap daerah dan selanjutnya menginstruksikan agar mereka membakar mushhaf selain mushhaf ‘Ustmani. Dengan demikian akan terkikis segala pertikaian yang disebabkan oleh perbedaan bacaan (dialek).
Untuk usaha tersebut, ia menugaskan empat orang sahabat pilihan, yaitu, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said Ibn Al-‘Ash dan Abdurahman Ibnu Hisyam. Mereka semua dari suku Quraisy kecuali Zaid bin Tsabit dari kaum Anshor. Kemudian ‘Utsman meminta kepada Hafsah binti ‘Umar agar menyerahkan mushhaf yang ada padanya untuk ditulis dan diperbanyak. Permintaan itu dikabulkan (ibid.). Belakangan mushhaf yang telah dibakukan oleh ‘Utsman ini dan diperbanyak ini disebut mushhaf ‘Utsmani.
Pengumpulan pada masa ‘Utsman bisa dikatakan paling sempurna karena sudah tersusun secara sistematis, baik ayat-ayat maupun surat-suratnya. Mushhaf ini hanya memakai satu huruf (qira’at) saja.

E. Beberapa Tuduhan sekitar Pengumpulan al-Qur’an
Pengumpulan al-Qur’an yang sedemikian rumpil dan berat ternyata
tidak terlepas dari tuduhan-tuduhan, baik dari kalangan orientalis maupun dari kalangan kaum muslimin sendiri. Sepanjang dalam konteks ilmiah, tuduhan –tuduhan tersebut sah-sah saja. Tuduhan-tuduhan tersebut antara lain :
Pertama, golongan Syi’ah memandang bahwa al-Qur’an telah disunat dengan menghilangkan beberapa bagian yang merujuk kepada ‘Ali RA dan keluarga Nabi SAW (ahlul bait). Namun tuduhan ini tidak ditujukan secara khusus kepada ‘Utsman, tetapi terutama kepada dua khalifah terdahulu, yyaitu Abubakar dan ‘Umar (Qaththan,2001:203 ; Watt,1991:77).
Dari segi historis, tuduhan tersebut tidak beralasan karena mereka
mempermasalahkan hal itu justru sepeninggal ‘Ali. Padahal selagi ‘Ali masih hidup sudah banyak pengikut ‘Ali yang fanatik. Bahkan ‘Ali sendiri tak pernah menyinggung hal itu.
Kodifikasi al-Qur’an yang dilakukan Zaid bin Tsabit itu melibatkan banyak penghafal maupun penulis wahyu Allah, itu pun dilakukan dengan kecermatan yang luar biasa dan ekstra hati-hati. Jadi rasanya mustahil ada rekayasa seperti tuduhan kaum Syi’ah tersebut.
Kedua, Hirschfeld , orientalis, mempermasalahkan keaslian ayat-ayat tertentu yang mencantumkan nama Muhammad. Nama Muhammad bukanlah nama Nabi yang sebenarnya, tetapi nama ‘alias’ yang diberikan kemudian (Hirschfeld via Watt, 1991:81).
Tuduhan Hirschfeld tersebut tampaknya mudah dipatahkan. Meskipun nama Muhammad hanya nama alias, tetapi nama itu dipakai Nabi hingga akhir hayatnya. Nama itu juga muncul dalam dokumen-dokumen seperti hadist-hadist yang banyak diriwayatkan, bahkan tercantum pula dalam Piagam Madinah dan Perjanjian Hudaibiyah.
Keempat, Paul Cassanova, dalam Mohammed et La du Monde, menyangsikan kebenaran dan kejujuran para pengumpul al-Qur’an. Ia menganggap adanya kesamaan tema antara ajaran Muhammad dengan paham beberapa sekte Kristen tertentu, yaitu tentang telah dekatnya hari kiamat dan hari penghisaban (yaumul hisab) . Menurutnya, Muhammad tergerak menjalankan misinya semata-mata karena terkesan dan terobsesi oleh gagasan “pengadilan akhirat” sekte-sekte Kristen tersebut, sehingga gagasan tersebut cukup dominan dalam al-Quran pada permulaannya. Kemudian, kata Cassanova, Abubakar dan ‘Umar memanipulasi secara besar-besaran agar gagasan tentang hari akhir tidak terlalu menyolok dan dominan dalan al-Qur’an (ibid.).
Menanggapi tuduhan Cassanova ini, Montgomery Watt menyatakan bahwa tuduhan itu tidak perlu dibahas panjang lebar, karena tuduhan itu terlalu apriori dan tidak ilmiah. Cassanova sendiri tidak akurat dalam menafsirkan al-Qur’an dan gagal mengapresiasi perkembangan historis ajaran al-Qur’an, karena sebenarnya seluruh bagian al-Qur’an merefleksikan problematika yang dihadapi Muhammad sebagai seorang utusan Tuhan.
Kelima, beberapa kalangan mensinyalir ada bagian-bagian al-Qur-an yang tidak tercantum dalam mushhaf atau “hilang”. Hal ini disebabkan oleh faktor lupa baik oleh Rasulullah SAW maupun oleh para Sahabat ( Qaththan, 2001:201 ; Watt,1991:83). Sebaliknya ada bagian mushhaf yang sebenarnya bukan al-Qur’an tetapi diyakini oleh penyuntingnya (Zaid bin Tsabit, pen.) merupakan bagian dari al-Qur’an (Watt,1991).
Tuduhan di atas bertentangan dengan fakta bahwa, pertama, sedemikian banyak para sahabat yang menghafal dan atau menulis wahyu Allah sehingga kemungkinan ada ayat yang hilang adalah hal yang mustahil. Kedua, sinyalemen itu bertentangan dengan instruksi Nabi yang melarang para sahabat menulis , selain menulis wahyu Allah. Jadi tidak mungkin ada tulisan non-Qur’ani yang masuk mushaf, apalagi bila mengingat suhuf-suhuf tersebut masih harus dikorespondensikan dengan hafalan para sahabat oleh penyuntingnya (Zaid bin Tsabit).
Keenam, Maimuniyah dari golongan Khawarij menganggap bahwa surat Yusuf bukan merupakan bagian dari al-Qur’an, tetapi tercantum dalam mushhaf al-Qur’an. Alasannya, karena surat Yusuf berisi kisah percintaan, jadi tidak pantas dimasukkan sebagai bagian dari al-Qur’an.
Menurut penulis, pendapat maimuniyah tersebut akibat kesalahan
persepsi mereka dalam memahami al-Qur’an. Hal ini juga akibat pemahaman yang yang subyektif dan elementer.

F. Penutup
Pada bagian penutup ini, penulis ingin menyajikan sebuah pertanyaan
“Apakah mushaf yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit, yang merupakan prototipe mushaf al-Qur’an sekarang itu, otentik dan lengkap seperti yang diwahyukan kepada Muhammad?” Sebagai seorang muslim kita sepenuhnya percaya otentisitas dan kelengkapan al-Qur’an. Sebagai ilmuwan, Haekal (1979) mengutip keyakinan William Muir, orientalis penulis The Life of Muhammad, bahwa mushaf al-Qur’an yang dikumpulkan Zaid bin Tsabit adalah otentik dan lengkap sebagaimana yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW, dengan alasan :
Pertama, pengumpulan pertama selesai di bawah pengawasan Abubakar RA. Sedang, Abubakar adalah seorang sahabat yang jujur dan setia kepada Muhammad. Juga, dia adalah orang yang sepenuhnya beriman pada kesucian sumber Qur’an, orang yang hubungannya begitu dekat dengan Nabi selama dua puluh tahun terakhir dalam hidupnya dengan menunjukkan dedikasi yang sangat baik . Begitu juga dengan ‘Umar RA.
Kedua, Pengumpulan tersebut selesai selang dua atau tiga tahun sesudah Rasulullah SAW wafat. Sejarah mencatat pada waktu itu sedemikian banyak sahabat yang hafal, baik seluruhnya maupun sebagian saja. Kemudia Zaid mencocokkannya dengan dokumen tertulis secara teliti.
Ketiga, Semenjak Rasulullah masih hidup sudah bayak naskah-naskah di Qur’an di tangan para sahabat yang dapat membaca meskipun hanya bersifat fragmental. Kemudian naskah-naskah tersebut dikumpulkan oleh Zaid untuk “direkonstruksi” menjadi suatu mushaf yang utuh.
Keempat, isi dan sistematika al-Qur’an itu jelas sekali menunjukkan cermatnya pengumpulan. Bagian-bagian yang bermacam-macam disusun satu sama lain secara sederhana tanpa rekayasa.

Demikianlah makalah kami, tampil sangat sederhana dan dangkal. Semoga pembaca berkenan memberikan tegur sapa, karena kami menyadari tak ada gedung yang tak retak. Semoga bermanfaat.

Sekian
DAFTAR PUSTAKA

Aboe bakar.1986. Sejarah Al-Qur’an. Solo: Ramadhani

Al-Abyasi ,Ibrahim.1996. Tarikh al-Qur’an. Atau Sejarah Al Quran. Terj.Ramli
Harun. Jakarta : Pusat Bahasa

Depag RI. 1985. Al-Quraan dan Terjemahnya. Jakarta: Depag RI

Ashshiddieqqy, Muhammad Hasbi. 1992. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an.
Jakarta: Bulan Bintang

Faridl, Miftah & Syihabuddin, Agus.1989. Al Qur’an : Sumber Hukum yang
Pertama. Bandung: Pustaka

Haekal. Muhammad Husain.1979. Hayat Muhammad, atau Sejarah Hidup
Muhammad. Terj. Ali Audah. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya

Haekal. Muhammad Husain.2001. Ash-Shiddiq Abu Bakr, atau Abu Bakr As-Siddiq.
Terj. Ali Audah. Jakarta : PT Litera Antar Nusa

Haekal. Muhammad Husain.2002. ‘Utsman bin ‘Affan, atau Usman bin Affan :
“Ummatku yang benar-benar pemalu adalah Usman”. Terj. Ali Audah.
Jakarta: PT Pustaka Litera Antarnusa

Hamka.1984. Pelajaran Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Al-Qaththan, Manna’ Khalil. Mabahits fi Ulumil Qur’an, atau Studi Ilmu-ilmu
Qur’an. Terj. Mudzakir. Jakarta : Litera Antarnusa

Ash-Shabuny, Muhammad Aly. 1996. At-Tibyan fi Ulumil Qur’an., atau Pengantar
Study al-Qur’an. Terj. Moch Chudlori Umar & Moh. Matsna H.S. Bandung:
PT Alma’arif

Ash-Shalih, Subhi.Mabahits fi Ulumil Qur’an. atau Membahas Ilmu-ilmu Al-
Qur’an. Terj. Tim Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka Firdaus

Shihab, M. Quraish.1994. Membumikan Al-Qur’an. Jakarta: Mizan

Syahbah. Muhammad Abu. Al-Madkhal li Diraasatil Qur’an Al-Karim. Kairo:
Darrul Kutub

Az-Zarqani, Muhammad ‘Abdul ‘Azhim. Manahilul ‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an.
Beirut: Dar Ihya’ at-Turats Al-‘Arabi

Watt. W. Montgomery.1991. Bell’s Introduction to the Qur’an, atau Pengantar Studi
Al-Qur’an . Terj.Taufik Adnan. Jakarta: Rajawali Pers

Tagged with:     , , , ,

About the author /


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *