Pengelolaan Sampah Perkotaan Berbasis Sekolah

Ahmad Arief Ma’roef

A. Latar Belakang Masalah

Meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup belakang ini, sangat berpengaruh pada melambungnya volume sampah. Sebagaimana dilansir oleh WALHI bahwa wilayah kota Jakaerta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari, dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Boroburud (volume Candi Borobudur = 55.000 m3). Data perkembangan volume sampah di Yogyakarta lebih mencengangkan. Data menunjukkan, setiap tahun volume sampah menunjukkan grafik yang selalu meningkat. Tahun 1981 volume sampah di Yogyakarta tercatat 700 meter kubik (m3) per hari. Lima tahun kemudian, volume tiap harinya sudah mencapai 1.100 m2, dan tahun 1989 jumlahnya sudah menunjukkan 1.500 m3 per hari. Diprediksikan produksi sampah yang meliputi Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul pada tahun 2004 akan mencapai 3.484 m3 setiap harinya.

Peningkatan voloume sampah, terutama di perkotaan, hanya akan memperpanjang problem bagi masyarakat dan pemerintah saja bila tidak diikuti dengan manajemen mengelolaan sampah yang baik. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pengelolaan sampah dapat berhasil. Syarat tersebut yaitu:

  • Masyarakat yang memiliki ”etika lingkungan” yaitu keyakinan, sikap dan perilaku ”ramah lingkungan”.
  • Masyarakat memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan sampah yang mencakup 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle).
  • Mayarakat terlibaty dengan angka partisipasi yang tinggi.

Untuk memenuhi ketiga syarat tersebut rupanya tidak gampang. Oleh karena itu perlu dicari terobosan untuk mencari bentuk pengelolaan sampah yang efektif. Salah satunya adalah pengolaan sampah berbasis sekolah.

B. Pembahasan

  1. Mengapa harus ”Berbasis Sekolah”?

Kompisisi penduduk Indonesia yang miramidal menunjukkan besarnya prosentase jumalh penduduk usia sekoloah. Untuk masyarakat perkotaan, hampir semua penduduk usia sekolah berstatus siswa sekolah. Ini berarti jumlah mereka sangat signifikan. Jumlah yang besar merupakan syarat bagi angka partisipasi yagn besar dalam pengelolaan sampah di perkotaan. Kecuali itu, komunitas sekolah lebih mudah diorganisir secara sistematis. Dengan demikian akan lebih mudah dalam menanamkan etika lingkungan maupun menanamkan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah yang berorientasi 3R.

Sebenarnya sejak lebih 2 dekade yang silam, melalui Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) pemerintah berupaya menanamkan keyakinan, sikap dan perilaku ”ramah lingkungan”. Realitas menunjukkan implementasi PKLH di segenap jenjang sekolah belum mencapai hasil yang diharapkan. Fenomena ini ditunjukkan oleh hampir semua lulusan sekolah belum menampilkan kinreja ”ramah lingkungan”. Kegagalan tersebut kemungkinan akibat pembelajaran yang terlalu teoretis dan kurang terfolus. Dari kegagalan ini kita mengambil pelajaran dalam melakukan kegiatan penglolaan sampah berbasis sekolah.

Pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis sekolah (PSBS) dapat ditempuh melalui tiga macam bentuk. Pertama, mengintegrasikan PSBS dalam mata pelajaran yang bergayut, seperti Biologi, PPKN, Geogradi, dan lain-lain. Kedua, menjadi PSBS sebagai mata pelajaran tersendiri yang berstatus muatan lokal. Ketiga, menjadi PSBS sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Dari ketiga alternatif tadi, menurut hemat penulis, alternatif ketiga yang paling tepat. Pilihan PSBS sebagai kegiatan ekstrakurikuler akan terasa lebih fleksibel dan memungkinkan untuk dilaksanakan.

  1. Langkah-langkah Pengelolaan Sampah Berbasis Sekolah (PSBS)

Sebelum melaksanakan kegiatan PSBS, terlebih dahulu harus disusun perencanaan yang matang. Sebab, tanpa perencanaan yang matan kegiatan ini tidak akan berjalan dengan baik. Perencanaan tersebut menyangkut perencanaan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.

a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini guru sebagai pembina kegiatan PSBS melakukan persiapan, antara lain::

  • Penyusunan proposal dan silabus kegiatan.
  • Memberikan penjelasan mengenai seluk-beluk PSBS berorientasi 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle), kepada siswa.
  • Pengadaan Peralatan yang akan digunakan dalam kegiatan PSBS. Peralatan tersebut mulai dari alat-alat kebersihan, alat pembuat kompos, hingga pot-pot untuk pemanfaatan kompos. Termasuk pula blangko laporan kegiatan kelompok dalam bentuk buku.
  • b. Tahap pelaksanaan

  • Siswa dibuat berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri dan 5 – 10 anak. Setiap kelompok memiliki komposter yang ditepatkan pada salah satu tempat tinggal anggota kelompok. Bentuk komposter menyesuaikan situasi, kondisi, dan domisili (si-kon-dom) tempat komposter berada.
  • Secara bergiliran setiap hari harus ada satu angota kelompok yang memisahkan sampah domestik yang berasal dari tempat komposter berada. Sampak organik dimasukkan komposter, sedangkan anorganis dimusnahkan.
  • Setelah 6 bulan, sampah yang telah berubah jadi kompos sebagian dimanfaatkan utnuk menanam tanaman dalam pot. Secara periodik masing-masing kelompok menyampaikan laporan singkat perkembangan kompos maupun tanaman dalam pot tadi.
  • Kelompok menyusun laporan akhir sebagai syarat mengikuti ulangan umum menjelang kenaikan kelas. Dalam laporan ini disertakan pula laporan mengenai penerapan implementasi. Reduce dan Reuse yang telah dilakukan siswa dan tentunya Recycle yang berupa kegiatan pengomposan.
  • Guru pembimbing melakukan penilaian secara otentik dan terpadu. Nilai tersebut nantinya untuk mengisi kolom nilai ekstrakurikuler pada raport.
  • Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru, sebagai pembimbing. Utnuk menjadi pembimbing yang efektif dalam mengembangkan sikap dan merubah cara pandang siswa, guru perlu menggunakan sejumlah strategi antara lain:

    • Menampilkan contoh konkret keteladanan;
    • Menyediakan lingkungan kondusif, dan;
    • Memberikan program pembiasaan yagn selalu konsisten setiap waktu.
    • Kalau guru ingin mengembangkan sikap peduli terhadap lingkungan untuk tidak membuang limbang domestik secara sembarangan, guru perlu memberikan contoh, misalnya, selalu memegang kulit pisang/kulit rambutan sebelum menemukan tempat sampah. Guru perlu menyediakan lingkungan yang kondusif seperti menyediakan tempat sampah, tempat cuci tangan, kemoceng di kelas/ sekolah. Selain itu, setiap kegiatan pembelajaran selalu diselipkan kegiatan yang mengkondisikan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, atau melatih siswa untuk memilah sampah organik dengan sampah non-organik dan selanjutnya sampah non-organik dimasukkan pada tempat khusus yang sudah disediakan.
    1. c. Tahap Evaluasi Kegiatan.

    Di akhir kegiatan ekstrakurikuler PSBS dilakukan evaluasi program. Evaluasi ini penting dilakukan untuk mengetahui efektivitas kegiatan. Evaluasi ini merupakan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan. Hal-hal yang positif hendaknya ditingkatkan, sebaliknya, hal-hal yang kontraproduktif ditinggalkan untuk mencapai hasil yagn lebih maksimal. Singkatnya, hasil evaluasi dijadikan referensi dalam menyusun proposan dan silabus kegiatan mendatang.

     

    1. Peranan PSBS terhadap Manajemen Pengelolaan Sampah Perkotaan

    Setidaknya ada 3 nilai lebih dalam pengolaan sampah berbasis sekolah, yaitu:

    1. Pengelolaan Sampah berbasis sekolah (PSBS) secara kuantitatif melibatkan secara aktif banyak anggota masyarakat (dalam hal ini siswa).
    2. Pengetahuan anggota masyarakat mengenai pengelolaan sampah berorientasi 3R meningkat secara nyata.
    3. Siswa sebagai bagian dari masyarakat memilii etika lingkungan, yaitu keyakinan, sikap dan perilaku ramah lingkungan. Etika lingkungan ini penting sekali sebagai modal dasar keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

     

    1. Penutup

    Permasalahan sampah di perkotaan adalah permasalahan bersama yang semakin hari semakin pelik. Salah satu kiat memecahkan masalah ini adalah dengan pengelolaan sampah perkotaan berbasis sekolah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Jumlah siswa yang sangat banyak dan terorganisir merupakan aset yang penting dalam kegiatan ini.

    Siswa secara berkelompok mengelola sampah dengan orientasi 3R. Kegiatan tersebut meliputi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi program. Apabila kegiatan PSBS ini dilakukan oleh seluruh sekolah di perkotaan, maka hasilnya akan menggembirakan. Ini berarti permasalahan sampah yang selama ini menjadi problem besar perlahan-lahan mulai teratasi sejalan dengan mulai tumbuhnya kesadaran ”ramah lingkungan” dalam benak warga masyarakat perkotaan. Kalau sudah begini, Adipura bukan lagi pura-pura.

    Semoga tulisan ini bermanfaat. Sekian.

    ****
    Sumber gambar: spectrum.paint. com

    Tagged with:     , , , ,

    About the author /


    Post your comments

    Your email address will not be published. Required fields are marked *